expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Senin, 20 Februari 2012

Pemuda, Harapan bangsa



“Berikan kepadaku seribu orang tua, akan aku cabut Semeru dari uratnya.
Beri aku satu orang pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”
(Soekarno, Pidato Hari Sumpah Pemuda tahun 1963)

Pernyataan Soekarno ini menandaskan pentingnya peranan pemuda dalam menciptakan sebuah perubahan. Pemuda adalah elemen terpenting dalam masyarakat yang berperan sebagai ‘agen perubahan’(the agent of change). Termasuk di dalamnya, golongan pelajar. Tidak bisa dipungkiri, peran pemuda dan pelajar Indonesia sangat besar di dalam menegakkan negara ini. Sejak zaman perjuangan sebelum kemerdekaan hingga mempertahankan kedaulatan. Bahkan, dalam mengisi kemerdekaan.

Pelajar Indonesia sekarang mengalami ‘sindrom alienisme’. Mereka lebih suka berada di dalam dunia mereka sendiri. Mereka cenderung terasing dari masyarakat. Ada yang kehidupannya hanya rutinitas: sekolah-rumah-sekolah-rumah; tanpa ada waktu sedikitpun untuk melihat kondisi masyarakatnya. Banyak pula yang terjebak di dalam dunia hedonisme. Hura-hura menjadi menu utama pelajar Indonesia tipe ini. Mereka cuek terhadap kondisi masyarakat. Hal ini diperparah lagi dengan kondisi kultur bangsa Indonesia, disuburkan oleh sinetron-sinetron, film-film, mode, majalah remaja, dan sebagainya. Sementara itu, kebanyakan aktivis ROHIS/OSIS –siswa yang memiliki kesadaran lebih- cenderung terkurung oleh birokrasi, dan akhirnya harus tunduk pada sistem.
Di belahan manapun di bumi ini, pemuda pasti berperan dalam kehidupan sosial politik masyarakatnya. Pelajar sebagai bagian utama dari generasi muda memiliki kelebihan daripada generasi muda yang lain.
Kelebihan-kelebihan itu antara lain :  Pertama, IntelektualitasPelajar –sesuai namanya- adalah generasi muda yang terpelajar. Artinya –seharusnya- ia memiliki kelebihan berupa intelektualitas. Dengan intelektualitas ini, seharusnya pelajar mau dan mampu melihat kondisi sosial politik masyarakatnya, kemudian berperan aktif di dalamnya. Kedua, Keterbukaan dan penerimaan terhadap hal-hal baru. Intelektualitas akan melahirkan keterbukaan dan penerimaan terhadap hal-hal yang baru. Dengan ini, pelajar akan memiliki sikap progresif,selalu ingin kemajuan. Otomatis, pelajar seharusnya aktif berperan sebagai ‘agen-agen perubahan.’ Ketiga, Idealisme. Pelajar adalah komunitas pemuda intelektual yang masih bersih. Belum mengalami distorsi akibat kepentingan-kepentingan pribadi. Idealisme inilah yang akan menjadi kekuatan penggerak bagi pelajar, untuk menuntaskan sebuah perubahan.Dan Keempat, Identitas komunal “pelajar”. Pelajar memiliki nilai sosial yang lebih di dalam masyarakat, meskipun sekarang tidak lagi begitu kentara. Identitas komunal ini seharusnya mampu menyatukan pelajar di dalam sebuah gerakan bersama. Karena perubahan akan terjadi dengan kerja sama.
Dengan berbagai kelebihannya di atas, pemuda memiliki tiga peran penting dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Pelajar harus menjadi elemen aktif untuk melakukan perbaikan terus-menerus terhadap kondisi sosial-politik masyarakatnya. Peran aktif itu adalah :
  1. Sebagai Generasi Penerus; Masa depan bangsa ini di tangan para pelajar. Dengan demikian, pelajar harus menyiapkan diri untuk menjaga keberlangsungan Bangsa Indonesia. Pelajar harus memiliki visi masa depan, yang akan dicapai melalui tindakan-tindakan nyata secara bersama.
  2. Sebagai Perubah; Kondisi bangsa ini tidak begitu baik. Ada banyak hal yang harus dirubah. Misalnya : kultur budak, klenik, konsumerisme, KKN, dan sebagainya. Kultur –dan semua sistem yang melingkupinya- harus dirubah. Pelajar bisa melakukannya, karena ia adalah penentu masa depan. Karena itu, seharusnya perubahan itu dimulai dari sekarang.
  3. Sebagai Pembaharu / Reformer; Perbaikan harus dilakukan terus menerus menuju kondisi yang lebih baik. Karena itu, pelajar –dengan segala kelebihannya- harus mengambil peran ini. Menjadi penjaga pembaharuan yang terus menerus.
Sumber : Freshforteen

0 komentar:

Poskan Komentar